Konsep kantor untuk freelancer
Freelancer kebanyakan tidak punya kantor tetap. Mereka biasanya bekerja di rumah atau berpindah-pindah tempat seperti kafe atau tempat yang bisa untuk bekerja. Kebebasan ini memang merupakan salah satu daya tarik menjadi freelancer. Karena dengan demikian kita tidak mudah jenuh dengan pekerjaan karena tiap hari bisa memilih tempat kerja yang kita inginkan.
Tapi hal ini terkadang membuat seorang freelancer menjadi kurang produktif. Tidak adanya tempat khusus untuk nyaman dan fokus untuk bekerja membuat seorang freelancer tidak mencapai produktifitas maksimalnya. Contohnya, bila bekerja di rumah gangguan dari keluarga terkadang menyita waktu freelancer. Asumsi anggota keluarga yang melihat kita ada di rumah terkadang menganggap freelancer bisa dimintai tolong ini itu. Apakah kita tega menolak orang tua yang meminta tolong untuk membelikan sesuatu di luar rumah pada saat panas terik pada siang hari? Kalau saya tidak bisa, entah dengan anda. Atau godaan untuk bermalas-malasan dan melakukan hal lain diluar pekerjaan yang sangat besar ada dirumah. Kasur dan sofa empuk sangat menggoda dibandingkan kursi kerja. TV dan game terkadang lebih memanggil dibandingkan dengan Netbeans dan Adobe Firework untuk membuat website. Bekerja di kafe juga memiliki waktu terbatas, saya paling lama betah di kafe sendiri kisaran 4-5 jam atau sampai MacBook Unibody padam karena kehabisan power. Terkadang pengunjung yang rame juga mengganggu konsentrasi pada saat kita sedang fokus. Saya juga tidak nyaman meninggalkan laptop dan tas sendiri untuk ke toilet.
Berawal dari gambaran diatas terpikirlah ide kenapa kita tidak mempunyai kantor seperti pegawai yang lainnya. Kantor dimana kitalah yang menjadi bos. Konsepnya adalah adanya rumah yang disetup menjadi kantor lengkap dengan furniture kantoran seperti meja, laci, kursi, dan komputer. Meja kantor disetup menjadi kubikel yang masih memberikan kesan luas namun tetap ada privasi. Dalam satu rumah kantor mungkin disediakan 10 meja yang digunakan oleh freelancer namun para freelancer ini tidak harus mempunyai hubungan kerja walaupun dalam satu kantor. Jadi mereka akan sibuk dengan pekerjaan masing-masing di meja sendiri tanpa mengganggu para freelancer lainnya.
Kantor ini juga akan dilengkapi fasilitas kantor seperti ac, internet 24 jam, air mineral, dan ruang refreshing serta office boy yang siap melayani para freelancer. Ruang refreshing adalah ruang dimana pekerja bisa bersantai melepaskan penat atau beristirahat sejenak mencari ispirasi ini. Ruang refreshing bisa dilengkapi dengan TV, sofa empuk, kopi, atau bahkan game console seperti Playstation atau Wii. Para freelancer tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan masing-masing tanpa mengganggap ruang refreshing sebagai godaan untuk meninggalkan pekerjaan.
Konsep ini akan membantu para freelancer meningkatkan produktifitas mereka karena mereka akan lebih fokus dalam pekerjaan. Meminimalisasi gangguan dari orang lain, mengurangi godaan bermalas-malasan, bekerja selama 8 jam perhari atau lebih merupakan hal-hal yang dapat membantu seorang freelancer mencapai produktifitas maksimal. Dan hasilnya penghasilan lebih. Bukankah freelancer yang bekerja dengan sistem proyek akan berpenghasilan lebih kalau dia mampu lebih produktif? Berbeda dengan pegawai bergajian bulanan yang sekeras apapun dia bekerja gaji bulanan tetap berjumlah demikian, mungkin ditambah lembur yang tentu nilainya tidak melebihi gaji bulanan.
Berapa biaya yang diperlukan? Tentu untuk meng-setup kantor dengan furniture kantor yang bagus dan komputer yang nyaman digunakan butuh biaya tidak murah. Belum biaya kontrak rumah yang tidak sedikit. Untuk satu meja saja mungkin bisa memakan biaya sekitar 3-5 juta. Belum komputernya yang mungkin berharga kisaran 4-5 juta. Jadi misalnya untuk membuat 10 meja kerja dalam 1 rumah mungkin akan membutuhkan biaya sekitar 70-100 juta. Belum termasuk sewa rumah dan biaya operasional tiap bulan seperti air, listrik, gaji office boy dan koneksi internet. Sewa rumah setahun sekitar 15-20juta di Bandung dan untuk air listrik bisa sekitar 1,2juta perbulan yang kalau rata-rata selama setahun membutuhkan biaya kasar sekitar 3-5juta per bulan. Dengan demikian untuk 1 rumah kalau diperkirakan 1 juta per freelancer tiap bulan akan mampu mengembalikan modal dalam 1,5 tahun. Namun untuk jangka panjang mungkin tanpa terlalu memperhitungkan modal furniture dan komputer biaya sekitar 500-800 ribu per freelancer tiap bulannya cukup untuk mengembalikan modal untuk tahun ke 3 atau ke 4. Selanjutnya bisa untung sekitar 3 – 6 juta per bulan untuk 1 rumah.
Kalau menurut saya sih biaya 500 – 800 ribu cukup untuk meningkatkan produktifitas saya 100% dibandingkan kerja di rumah atau di kafe. Toh kalau tidak ada kendala hasil mungkin bisa ikut meningkat hingga 100% juga. Karena kalau dibandingkan saya harus bekerja di kafe dan membayar 50.000 per hari untuk 4-5 jam kerja dan dikalkulai 20 hari kerja dalam sebulan toh biaya juga mencapai 1 juta rupiah. Sama saja bukan tapi tingkat produktifitas yang berbeda.
Untuk merealisasikan hal ini tentu butuh dukungan para investor dan freelancer yang siap menjadi konsumen, apakah mereka tertarik dengan konsep kantor freelancer ini? Kalau anda freelancer dan tertarik untuk bekerja di kantor dengan konsep seperti di atas mohon komentarnya agar kita dapat merealisasikan ide ini. Terima kasih.




November 13, 2009 at 10:20 am
Artikel yang bagus pak
Jujur saya juga seorang freelancer di sela-sela pekerjaan pokok saya. Sulit mengatur waktu bekerja di rumah (apalagi sy sudah berkeluarga). Kalau harus bekerja di luar rumah pun rasanya agak berat (secara jam kantor saya dari jam 7.30 s/d 17.00 senin – jumat dan sering pulang agak telat), sabtu minggu ya itu waktu u/ keluarga.
Mungkin artikel ini lebih cocok untuk freelancer yang belum memiliki pekerjaan pokok.
November 13, 2009 at 5:50 pm
Tapi kalo untuk ukuran seorang Newbie masih mahal lah itu. Tapi kalo sudah Prof lain ceritanya. Suatu saat nanti ketika sudah mandiri, saya sendiri menbayangkan hal tersebut bisa menjadi nyata. Agak tidak lagi pekerjaan Freelancer dipandang sebelah mata.
November 14, 2009 at 1:00 pm
Terima kasih komentarnya. Memang ide ini ditujukan untuk para full freelancer yang ingin lebih produktif lagi. Mungkin buat pemula agak lebih mahal tapi kalau untuk profesional mungkin hal setimpal untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
November 30, 2009 at 3:10 pm
Wah saya tertarik tuh. kayanya lebih bisa fokus. dari pada harus ke mall trus mojok di kafe. mahal tuh
December 9, 2009 at 2:04 pm
@andi : “Mungkin artikel ini lebih cocok untuk freelancer yang belum memiliki pekerjaan pokok.”
Atau mungkin freelancer yang tidak lagi tertarik untuk mencari pekerjaan pokok? Haha…
December 10, 2009 at 3:24 pm
Bisa saja sih bikin konsep seperti itu, tapi harus ada hasil baliknya. paling tidak ada Project yang lumayan juga…
December 12, 2009 at 11:51 am
@ yofie: kalau freelancer dah lancar kayaknya malas balik lagi nyari pekerjaan pokok.. hehehe..
@herman: iya, dengan biaya yang lumayan tentu pertimbangan harus ada pemasukan yang lumayan jg dan diharapkan dengan bekerja ditempat yang mendukung untuk lebih produktif mudah-mudahan bisa lebih dari lumayan penghasilannya.
December 25, 2009 at 4:40 am
heeh, mang udah lama konsep share office gini, waktu itu pernah 2 tahun cuma ga sampe ada office boy nya, ga kuat
.
trus pernah dateng ke kantor klien,di mega kuningan sama share office juga tapi emang lebih keren, di gedung tinggi, meeting room, office boy, konsep oke lah.
nah yang kaya gini nih mas yang dicari investornya, ga kebayang kalo harus bayar pertahun, kalo perbulan mungkin ngejer
aniwei nice to meet u
December 25, 2009 at 6:22 pm
idenya bagus bro tp klo saya masih memilih kompromikan bikin proyek2 dirumah saja. karena bagaimanapun kita perlu mendedikasikan waktu buat keluarga.
however, dulu sih jamannya kul dan kerja awal2, kami ber 4-8 suka ngepos di paviliun rumah salahsatu teman (dia sendiri tinggal di rumah utamanya) dan disana kami cuman modal komp. sendiri2 saja, tinggal duduk saja di meja besar seperti meja makan. no tv, no phone, soal internet urus sendiri2, ac nyala klo rokok mati, toilet ada & bersih, makan biasanya keluar cari warteg gantian traktir2an. mgkn itu contoh lebih sederhananya.
December 31, 2009 at 7:36 am
@taufiq: wah ada juga di kawasan elit yang share office. Tapi perusahaan ya? Memang butuh investor, tapi kalau ada yang berminat join kita patunngan aja yuk.. Hehhee
@Seseorang: Makasih sharingnya, coba ada teman yang mau meminjamkan rumah atau paviliunnya untuk kantor seperti ini. Jadi biaya kontrakan bisa dikurangi. Mungkin dari contoh itu perlahan-lahan bisa dikembangkan ke arah kantor profesional.
January 12, 2010 at 10:50 pm
mmhh ide kreatif… patungan punya kantor
February 6, 2010 at 4:30 pm
ada lagi yg lebih murah dan lebih fleksibel, menyulap mobil jadi kantor. bagian belakangnya dibuat kayak kantor trus cari hotspot gratis di kampus-kampus biar tetep online (^_^)>he..3x
February 7, 2010 at 11:14 am
Mantap, berarti harus nyari yang dekat kampus ya…
February 9, 2010 at 10:18 pm
ide cemerlang ……… !!! briliant………. baru kepikiran dan kebayang bakalan produktifnya kyak gmn…… anyway memang bener waktu itu sangat berharga untuk produktifitas……. kadang klo di tempat sendiri semisal rumah atau kostan, hawa untuk bermalas2an lebih kental, blm lagi gangguan temen ngajak maen PES 2009…. innalillahi hese NOLAK…… pasangan kita sendiri yang ingin ditemani setiap saat…. atau bahkan gangguan yang lainnya…….. bwat temen yang sudah baca artikel ini…. ada masukkan calon lokasi tempat dan kantor nya??
February 14, 2010 at 4:09 pm
ide yg bagus tuh. selain jd tempat kerja bisa juga jadi tempat tuker2 an informasi kerjaan. gw mau ikutan patungan lah..
February 15, 2010 at 9:17 am
Wah serius mo join? Bukannya udah ada kantor?
Bagus tuh, ya udah tar kita obrolin ya ndi.
February 22, 2010 at 12:43 pm
kepikiran juga nih kayak gini, tapi gimana klo kayak Jelly dulu aja?
http://www.workatjelly.com/
konsepnya cuma 1 minggu 1 kali, semua ngumpul untuk kerja sendiri2, atau brainstorm sama orang yang baru kenal
kadang kita malah ngerasa semangat klo kerja di lingkungan yang banyak orang kreatif nya
February 23, 2010 at 11:09 am
Richard: Keren juga tuh kayaknya untuk ngumpul seminggu sekali untuk kerja bareng di satu tempat. Walaupun masing-masing sibuk ma urusan sendiri. Dengan ada banyak orang kreatif di sekitar kita pasti saling memotivasi dan bisa saling sharing. Thanks buat sarannya Richard.
March 2, 2010 at 12:56 pm
wah..kebetulan sekali mas…say lagi cari yang kayak gituan mas..tapi lagi tersendat modal nih mas..gmn..??
n saya domisili di PWT…
July 3, 2010 at 4:16 pm
wah ide bagus….
top dah…
tpai kalau masalah sewa menyewa sih masih nggak bisa,
maklumlah belum full freelance, mungkin ada rencana bikin di rumah aja, dengan fasilitas meja, komp, internet, telp fix.
mungkin itu sudah lebih dari cukup kayaknya
July 16, 2010 at 2:02 pm
Ide Menarik mas….
July 18, 2010 at 9:39 am
Thanks, kita lagi nyari rumah nih di Bandung. Iri liat Icreativelabs ngumpul gitu. Semoga bs cepat dapatnya.
July 26, 2010 at 8:50 am
keren juga ide anda….sepertin saya punya teman baru untuk ide kota online…namun sepertinya anda lebih menekankan kepada proses bisnisnya …muantap sekali jaman skr siapa y dapat melihat peluang akan sukses namun semua itu butuh perjuangan…sebenarnya ketika konsep kantor virtual itu telah terjadi maka konsep anda akan buming sepertinya…..kalu konsep saya akan menggarap kantor online dahulu khususnya sektor pelayanan publik baru setelah itu merambah ke sekolah, kampus, restoran, dll dimana pelayanan yang diberikan bersifat online …slm