Kuliah di luar negeri? Siapa sih yang ga mau. Cuma orang yang putus asa dan tidak punya keinginan untuk maju seandainya dapat tawaran untuk kuliah di luar negeri tapi tidak diambil. Kuliah di luar negeri bukan sekedar melanjutkan pendidikan, dan kemudian dapat gelar yang belakangnya ga pake embel-embel “S”. Kalau di Indonesia hampir semua gelar S1 diawali dengan huruf S seperti S.T., S.E., dan S lain-lainnya, di luar negeri gelar S1 alias Bachelor pake awalan B. Jadi dari titel juga sudah kelihatan mana lulusan luar negeri mana yang dalam negeri.

Tapi bukan gelar yang jadi tujuan saya bermimpi melanjutkan kuliah di luar negeri, tapi pengalaman hidup yang tidak dapat dibeli dimanapun. Pengalaman berinteraksi dengan beragam budaya, ras, dan kebiasaan. Sensasi menjalani semua itu yang sudah sedikit saya rasakan sejak perantauan saya melanjutkan SMU di kota Malang dan melanjutkan kuliah di kota Bandung. Pengalaman yang menempa saya menjadi orang yang bisa mandiri, dan bisa kuat melawan kerasnya badai dalam hidup manusia.

Belanda, negara tujuan yang menjadi pelabuhan dari cita-cita saya. Kenapa? Karena keragaman budaya, ras, dan bangsa di Belanda sangat menarik buat saya. Belanda dipenuhi oleh para pendatang dari negara lainnya untuk menuntut ilmu dan bekerja. Hampir sama dengan kota Jakarta. Karena keragaman itulah Belanda juga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan mereka. Semangat dan keinginan yang juga dipicu oleh banyaknya teman-teman di Belanda melanjutkan kuliah mereka. Mendengar, dan melihat foto mereka disana membuat saya makin menggebu-gebu untuk melanjutkan kuliah di Belanda.

Tapi mimpi tersebut belum bisa saya wujudkan hingga saat ini. Rumitnya prosedur pengajuan beasiswa untuk freelancer seperti saya membuat saya harus memendam cita-cita itu. Syarat pengalaman kerja 2 tahun di perusahaan tidak dapat saya penuhi karena mana ada surat pengalaman kerja kalau kita hanya punya portofolio. Kecanggihan teknologi di Eropa seakan membius saya untuk terus menyalakan cita-cita ini. Keinginan mempunyai data center untuk menghidupkan aplikasi web buatan saya membuat saya terus berusaha agar mimpi tersebut menjad realita. Cerita teman-teman dan di televisi yang membangun server di rumah sendiri di luar negeri membuat saya punya keinginan yang sama. Tapi hal tersebut susah diwujudkan di Indonesia yang punya koneksi super duper lambat untuk koneksi internet rumahan. Bandingkan kecepatan 256kbps dengan koneksi hitungan mega byte per second, tentu jauh ketinggalan.

Selama ini dalam mimpi saya suka berkhayal untuk melanjutkan kuliah di Belanda. Memperlancar Bahasa Inggris, menambah perbendaharaan bahasa setelah bahasa Toraja, Jawa,  Sunda, dan Inggris dengan bahasa Belanda. Berinteraksi dengan beragam bangsa dan bahasa. Keliling Eropa dengan mudah karena Belanda adalah jantung Eropa. Bertemu teman-teman lama, dan mencari teman-teman baru. Dan yang paling tinggi adalah menjadi technopreneur seperti si Matt sang pencipta Wordpress. Dengan dukungan kecanggihan teknologi, keragaman budaya, dan kualitas pendidikan yang baik tentu akan membuat saya lebih creative, lebih kompeten, dan lebih kuat dalam mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Popularity: 3% [?]